<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/9172738961745716738?origin\x3dhttp://thethirdsign.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
S I G N
the third, the last.
"Gonna be the one that I want,
chitty chitty bang bang!" - 이효리
Surat Tahun Pertama.
Tuesday, June 8, 2010

Siang menjelang sore. Waktu-waktu seperti ini, biasanya Selena habiskan di kamarnya untuk tidur siang. Bukan kemauannya, memang, namun Mum yang selalu mengatakan hal itu—jadinya Selena hanya menurut dan menganggukan kepalanya dan segera melenggang menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Namun, hari ini, berbeda drastis.

Mum di dapur, sedang sibuk katanya, jadi Selena disuruh untuk membukakan pintu depan. Katanya juga ada tamu yang sedari dua menit yang lalu mengetuk pintu dan sekaligus memencet bel—heran, padahal jarak antara pintu dan tombol belnya, menurut Selena, sudah agak jauh. Orang super macam apa pula yang akan berurusan dengan keluarganya kali ini? Ah, lupakan. Pokoknya dari tadi ada yang berusaha memanggil dirinya ataupun ibunya, tapi yang membuat Selena heran... dirinya sama sekali tidak mendengarkan suara ketukan pintu ataupun bel yang sebetulnya sudah agak nyaring kedengarannya. Apakah Selena sudah tuli? Tidak juga, buktinya Selena masih bisa mendengarkan panggilan dari Mum tadi, kok.

Jadi sekarang, Selena sedang menggerakan kedua kakinya dari dalam kamarnya menuju pintu depan. Beruntung kedua kakinya masih berbalutkan sendal bunny berwarna abu-abu muda yang lembut, sehingga lantainya tidak menghasilkan suara apapun. Lantai rumahnya agak-agak penganehan, memang. Padahal tidak terbuat dari kayu, melainkan keramik, tetapi setiap kakinya melangkah diatas lantai pasti terdengar bunyian seperti ‘tuk-tuk-tuk’ tanpa gedubrak. Yeah, itulah salah satu dari beberapa hal yang dipertanyakan Selena didalam otaknya—mungkin itu pula yang kadang membuatnya sedikit tidak cepat tanggap terhadap apapun. Ah, lupakan lagi. Kedua bola matanya memandang kearah pintu sementara kedua tangannya kini mulai memegang gagang pintu yang siap ditarik. Lihat saja, orang seperti apa yang kini datang bertamu ke rumahnya.

“SELENA!?”

...dan tatapan Selena yang tadinya biasa-biasa saja berubah menjadi sedikit bingung. Ternyata dua kakaknya yang kelihatannya baru saja pulang dari entah tempatnya. Yang membuat Selena bingung adalah... perasaan Sergio dan Sander masih ada di rumah—atau itu cuma delusi Selena yang membingungkan itu? Ah, lupakan lagi dan lagi. “Mm... kalian... bukan Sergio dan Sander, kan?” tanya gadis itu kepada dua orang yang ada didepan matanya kini. Menurut Selena kali ini... memang sih wajahnya mirip seperti Sergio dan Sander, tapi kan siapa tahu kalau dua orang itu bohong. Namun, reaksinya malah mengherankan sekaligus mematahkan sugesti Selena kalau mereka berdua bukan kakaknya. Dua orang itu tertawa sambil mendekati Selena dan mulai merangkulnya. Oke, dua orang itu memang benar-benar Sergio dan Sander, dan Selena sangat suka kalau dirangkul seperti ini. Sebelah kanan ada Sergio dan sebelah kiri ada Sander. AHAY!

“Hei, kau bermimpi apa semalam sampai tidak mempercayai kami pulang, hah?”

Tawa Sergio malah meledak ketika kakak pertamanya itu telah menyelesaikan kalimat pertanyaannya. Selena dan Sander hanya ikut cengengesan melihatnya, namun kedua tangan Sander kini tengah mencubit kedua permukaan pipi adik satu-satunya itu. “Mm... habisnya aku... kalian...” jawabnya terputus dan malah disambung dengan tawa karena baru sadar Sander telah mencubit pipinya tadi. Lemot mulai nongol, tuh. Kemudian Sergio mulai menyenggol pinggang Selena ketika mereka bertiga bergerak melangkah menuju dalam rumah dan sengaja membiarkan pintu depan menganga lebar, karena katanya Mum pasti suka tertutup sendiri—padahal biasanya tidak ada angin besar yang meniup di daerah rumahnya, tetapi selalu begitu... aneh. Katanya Mum, sih, itu salah satu kekuatan sihir yang tersembunyi didalam rumahnya ini.

Dan langkah mereka bertiga langsung terhenti ketika mereka mulai mendekati tangga menuju kamar mereka bertiga. Ada sesuatu yang ganjil yang tidak biasanya hadir didalam rumahnya.

Sepucuk surat. Padahal, seingat Selena, terakhir dirinya melirik kotak surat demi mengetahui apakah sepupunya telah membalas suranya lagi atau belum tidak ada satu amplop yang tersimpan disitu—dan sekalinya ada surat langsung ada didalam rumah? Ajaib. Sander malah langsung menyambar surat tersebut dengan tangan kirinya, Selena hanya menatapnya dengan tatapan bingung, yang berbeda sendiri adalah Sergio sebagai pihak yang sok tahu yang malah langsung nyeletuk, “AWAS! Jangan-jangan itu jebakan, hei!” yang malah dijawab dengan cengiran lebar oleh Sander sebagai pihak yang paling tahu. Selena sebagai pihak yang paling tidak tahu dengan apapun yang dilakukan oleh kedua kakaknya ini masih memasang tampang bingung setengah mati, kemudian langsung berbicara. “Oppa, itu surat dari mana untuk siapa?”

“Ini... untukmu! Surat dari Hogwarts ini untukmu! Kau akan sekolah disana, Seul Hee-ah!”

Dan, lagi-lagi. Selena hanya bisa kebingungan. Tidak mengerti maksud kakak keduanya itu. Kedua matanya hanya bisa memandang Sergio dan Sander bergantian, mereka berdua tampak sedang memasang tampang yang tidak bisa ditebak oleh Selena. “Mm... maksudnya?”

Labels: , ,