<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/9172738961745716738?origin\x3dhttp://thethirdsign.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
S I G N
the third, the last.
"Gonna be the one that I want,
chitty chitty bang bang!" - 이효리
Pelayanan Pengambilan dan Penukaran Uang #1
Monday, August 2, 2010

Sergio benar-benar cerewet. Dia terus saja menceritakan bagaimana ketika mereka berdua merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Selena sekarang ketika dirinya mulai melewati portal dari Leaky Cauldron menuju Diagon Alley. Sander tidak banyak omong, kakak keduanya itu lebih banyak melakukan aktivitas seperti membuka portal dengan mengetuk tembok sebanyak... enam kali atau lima kali, sih, tadi? Selena tidak hafal. Sementara dirinya sendiri hanya bisa memperhatikan kedua kakaknya yang mengapit dirinya yang bertubuh lumayan kecil ini—coba saja bandingkan dengan Sergio dan Sander yang sudah hampir menembus angka 165 cm itu. Tipikal orang dengan keturunan setengah Asia, sih, pasti tubuhnya tidak jauh lebih tinggi daripada orang Barat tulen pada umumnya. Untungnya, baik Sergio maupun Sander belum mencoba untuk merokok. Bisa dicekek Dad nanti.

Banyak penyihir, minim muggleborn. Selena bukannya benci terhadap orang-orang dengan tidak memiliki kekuatan sihir sama sekali, loh, ya. Cuma disuruh hati-hati saja sama Mum.

Tanpa sadar, kedua tangannya sudah ditarik keras-keras oleh Sergio dan Sander, seolah mau memutuskan kedua tangannya yang berharga itu. Selena sih cuma bisa menjerit sekaligus tertawa, karena ini memang kebiasaan Sergio dan Sander untuk membuat Selena tertawa. Tapi kadang suka berlebihan juga, sih. Kedua matanya makin menyipit—hyah, asal kalian tahu saja, matanya saja sudah agak sipit karena pengaruh gen Mum, tambah sipit lagi pasti sudah mirip orang China, no? Hahaha... Selena tidak memprotes kelakuan kedua kakaknya itu—bukanya tidak, cuma telat. “Mau kemana, oppa? Jangan tarik-tarik lagi, deh!”

Anak perempuan yang tengah memakai pakaian casual itu langsung segera membelalakan matanya, tidak terlihat karena matanya kelihatan terlalu sipit. Seolah tidak percaya dirinya dibawa kemana kali ini oleh kedua kakaknya. Gedung berwarna putih, kelihatan megah sendiri diantara tempat-tempat bobrok lainnya yang siap runtuh itu. Gedung itu... hampir kelihatan mirip dengan rumahnya di Jerman, sumpah. Selena mulai nyengir, dan kemudian, saat kedua tangannya ditarik lagi oleh Sergio, Selena langsung membuka mulutnya dan bersuara, “Ini tempat apa?” dan Sander langsung menutup mulut Selena supaya tidak banyak bicara. Cis, padahal Selena tidak cerewet, kok, tidak seperti Sergio yang banyak berbicara sedari tadi.

Sampailah ketika mereka bertiga bertemu dengan makhluk aneh. Pendek, buruk rupa, dan segala macam caci maki bisa disebutkan disini. Selena tidak tega untuk menjelaskannya lebih lanjut. Sergio, yang sedari tadi banyak bicara, mulai berbicara lagi kepada makhluk tersebut. “Tiga ratus galleon dari berangkas milik keluarga Nelissen, Sir.” katanya penuh keyakinan sambil menyodorkan sebuah kunci kecil. Selena sendiri hanya memperhatikan, kemudian mengalihkan pandangannya menuju Sander dan mulai berbisik, “Tulisan yang panjang itu tadi, lihat tidak? Tulisannya apa, sih?”


Yang ngomong sama goblinnya itu Sergio xD

Labels: ,