<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/9172738961745716738?origin\x3dhttp://thethirdsign.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
S I G N
the third, the last.
"Gonna be the one that I want,
chitty chitty bang bang!" - 이효리
Perdalam Pengetahuanmu #1
Monday, August 2, 2010

Lagi-lagi dirinya terlihat seperti anak kecil yang sedang disandera. Bedanya, Selena hanya terkekeh kecil ketika melirik orang disebelah kanan dan kirinya. Selena memang paling suka kalau dirinya digandeng oleh kedua kakak disisinya, dan dirinya tidak suka kalau dirinya ditempatkan paling pinggir. Entahlah, sejak kecil memang selalu begitu. Apalagi kalau dengan sepupu-sepupunya yang kebanyakan sekarang berada di Korea itu.

Asal kalian tahu, Selena beserta kedua kakaknya yang imbisil itu baru saja menapakkan kakinya keluar dari gedung putih megah yang ternyata bank khusus penyihir yang bernama Gringotts itu. Kembali kepada jalanan yang ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang kesana kemari layaknya jalanan raya yang besar yang berisikan macam-macam kendaraan. Selena cuma bisa melihat kesekitar saja, selagi kedua kakaknya yang memegang kedua tangannya mengarahkan jalan entah kemana. Selena pasrah saja, sih, soalnya dirinya sendiri memang tidak hafal jalan disini, dan kedua kakaknya yang baru saja lulus dari Hogwarts itu pastinya hafal dengan jalanan disini. Jadinya, gadis itu cuma bisa menelengkan kepalanya kemana-mana.

Sampailah mereka di toko buku. Selena tahu darimana, memangnya?

Tuh lihat saja, bahkan dari depan pun sudah terlihat banyak tumpukan buku.

Tempat bobrok lain selain Leaky Cauldron tadi ternyata, ya, hmm? Yea, batinnya yang mengatakan hal seperti itu, dan untungnya tidak teraplikasikan oleh bibir merah mudanya itu. Lagi-lagi dirinya hanya bisa memandang isi toko tersebut yang memang sangat banyak buku bertumpuk entah di sudut sebelah kiri maupun kanan yang sebetulnya kelihatan agak berantakan—kalau untuk yang satu ini, Selena tidak berani protes terhadap yang punya tokonya. Sergio dan Sander hanya asyik berdua, berbincang sana-sini yang topiknya sendiri Selena tidak tahu. Kedua kakinya mulai bergerak lagi, meninggalkan kedua kakaknya yang nanti juga berhenti sendiri dan malah mencari dirinya—kalau bisa dan sangat Selena harapkan—sementara gadis itu beranjak menuju konter dimana beberapa pegawai sudah stand-by disana.

“Mm... permisi, satu paket buku pelajaran untuk murid tahun pertama Hogwarts, ada, kan?” tanyanya dengan nada manis.

Kalau sampai tidak ada... awas saja.

Labels: ,