Wand, Wand, Wand? #1
Monday, August 2, 2010
Bahkan kakak-kakaknya hanya bisa menatapnya dengan tatapan tercengang. Mereka kaget sepertinya dengan apa yang dilakukan Selena di toko buku tadi. Memesan apa yang dia butuhkan sendiri, memang bukan suatu hal yang besar tetapi ini... Selena tidak biasanya seperti ini, biasanya dia sebagai anak kecil bermanja-manja dulu kepada kakaknya dulu baru permintaannya bisa dipenuhi. Biasanya, kalau Sergio dan Sander sedang asyik mengobrol, Selena langsung merecokinya dan mulai berlaku manja kepada salah satunya. Korban yang paling sering itu... Sander. WAKAKAK.
Intinya, tiga bersaudara Nelissen itu kini sudah keluar dari toko buku menuju toko yang lain. Rasa-rasanya semua bangunan disini, kecuali bank yang tadi, kondisinya memprihatinkan semua. Sudah kelihatan tua, sebentar-sebentar, jika Tuhan mengizinkan, bangunan-bangunan seperti itu pasti sudah hancur seketika. Oh iya, dia tidak mau mengutuk para penyihir yang malas merekonstruksi bangunan tersebut, ngomong-ngomong. Seperti tadi, kedua tangan Selena ditarik dengan brutal oleh Sergio dan Sander. Keduanya hanya memasang cengiran lebar, sementara Selena sendiri cuma bisa terkekeh kecil. Benar-benar mengingatkannya akan masa kecilnya di Korea, lebih tepatnya di halaman belakang rumah milik keluarganya. Luas, banyak tempat bermain, Selena beserta kedua kakaknya dan sepupunya selalu bermain disitu setiap akhir pekan.
Okay, back to real life.
Semakin banyak saja orang yang melintasi ruas jalan ini, kalau Selena perhatikan dari tadi. Sergio dan Sander sih hanya memfokuskan pandangan mereka pada tempat tujuan mereka selanjutnya. Toko tongkat—WOW. Mungkin, ya, begitulah ekspresi Selena ketika melihat plang yang tergantung didepan bangunan toko tersebut. Sejak blablabla sebelum masehi. Selena paling parah kalau disuruh menghafalkan angka, kecuali angka tanggal kelahirannya, tentu saja. Sekarang gantian, karena Selena sudah terlanjur penasaran dengan toko tongkat tersebut—meskipun ya bangunannya begitulah—kini kedua tangannyalah yang menarik tangan kedua kakaknya dan mereka memang hanya bisa tertawa melihat adik kecilnya itu kelihatan benar-benar seperti anak kecil pada umumnya yang terlampau tertarik pada suatu hal yang dianggapnya memiliki kesan yang lebih.
Sesampainya didalam, Sergio mulai mengoceh lagi kepada Selena yang masih melihat-lihat kearah anak-anak lain yang telah memegang tongkatnya sendiri. “Yang perlu kau lakukan sekarang, Seul Hee-ah, cuma menyebutkan tanggal lahirmu kepada orang tua disebelah sana itu. Kalau perlu...” (giggles) “...menyebutkan namamu juga tak masalah.” dan kemudian Sergio mengedipkan mata kanannya dengan jahil. Jangan-jangan ada sesuatu yang janggal dengan kata-kata Sergio tadi. Tapi... lupakan. Selena malah juga ikut-ikutan lupa dengan apa yang dikatakan Sergio tadi. Ck. Selena langsung bergerak menuju konter—mencoba mengingat apa yang tadi dikatakan oleh Sergio barusan, sementara Sergio dan Sander mulai asyik sendiri. “Mm... Tongkatku... aku... kelahiran 11 Oktober. Tongkatnya yang cocok, ya?”
Cuma menyebutkan tanggal kelahiran, kan?
Labels: Date: 22122009, Diagon Alley: The Ollivander's