Jubah Untuk Semua #1
Monday, August 2, 2010
Mungkin sangat disayangkan bagi kakak pertamanya karena baru pertama kali ininya gagal mengerjai Selena. Seperti biasa, Selena hanya tertawa biasa, tidak seperti Sander yang tergelak karena kakak kembarnya itu menghadapi kegagalan terhadap adik kecilnya sendiri. Tubuh mereka bertiga yang semula menyandar pada dinding tua rapuh di toko tongkat tadi telah tidak ada. Sergio, Selena, dan Sander sukses keluar dari toko tongkat tanpa mendapat kecelakaan sedikitpun. Yea, untunglah mereka tidak menjadi korban tubrukan anak-anak yang gagal meluncurkan mantranya dan membuat tubuhnya terpental kebelakang ataupun kaca-kaca yang berhamburan karena dipecahkan karena sihir gagal dari beberapa anak. Selena sih tidak. Hahaha...
Lagi-lagi berjalan tak menentu arah, menurut Selena, karena ya dirinya memang buta jalan dan (sebetulnya) buta arah. Oke, dia tahu mana kanan mana kiri, tapi dia tidak tahu mana utara, selatan, timur, dan barat terletak. Sebenarnya wajar, kan? Sekarang malah kedua kakaknya tidak berlaku brutal seperti tadi. Apa karena kelelahan, ya? Padahal, setahu Selena, kedua kakaknya itu tidak pernah kehabisan semangat untuk berbuat jahil dan terkadang membuat Selena tertawa. Namun, nyatanya... barusan Sander mundur sedikit kebelakang dan kemudian mengangkat tubuh Selena dengan rendah. Tidak tinggi-tinggi, takut membuat Selena terjatuh. Tak ayal membuat gadis itu sedikit kaget dan hampir berteriak sebelum Sander berhasil menurunkan kembali Selena. Salah satu aksi jahil yang dilakukan Sander ya seperti itu, berbeda dengan Sergio.
Kedua matanya yang memiliki warna iris hijau lime itu mulai memandang kearah toko tua lainnya. Toko Jubah Madam Malkin. Toko lainnya yang wajib Selena mampiri demi melengkapi perlengkapan sekolahnya nanti. Sebenarnya, sih, Selena tadinya mau memakai bekas Sergio ataupun Sander. Namun, Mum protes. Lagipula, tidak etis juga bagi Selena memakai jubah anak laki-laki yang besarnya melebihi ukuran tubuhnya yang bisa dibilang kecil itu. Haha... Mum memang lebih tahu banyak soal dunia sihir ketimbang Dad, sepertinya, atau mungkin Dad sama sekali tidak peduli dengan dunia sihir dan lebih mementingkan dunia manusia pada umumnya, ya? Itu menjadi misteri sendiri bagi Selena yang tidak seharusnya ia kuak karena itu masalah orang tuanya. Anak kecil tidak boleh ikut campur, ah.
Akhirnya, ketiga bersaudara itu lagi-lagi memasuki toko tersebut, dan tidak seperti sebelumnya... Sander yang kini menemani Selena menuju konter untuk memesan jubah untuk Selena, sementara Sergio berdiam diri didekat pintu sembari memasang tampang jahil khasnya. Sander sih jauh lebih banyak baiknya ketimbang Sergio yang lebih banyak jahilnya, menurut Selena. Selena kini hanya menatap seorang pegawai laki-laki yang... (masukkan beberapa kata-kata pujian disini). Sayangnya dia sedang melayani anak yang lainnya. Cih. Selena melirik sebal kearah anak perempuan itu, sementara Sander sedang menuliskan sesuatu diatas perkamen, bukan kertas biasanya.
| Selena Nelissen |
Well, yeah, itu namanya tapi kurang lengkap. Biarin sajalah, terserah Sander, toh kakaknya itu yang paling tahu, kan? “Satu set jubah Hogwarts, please? Untuk...” (menunjuk kearah Selena) “...dia, dan ini namanya.”
Sander baik, ya? Ohoho...
Labels: Date: 22122009, Diagon Alley: Madam Malkin