<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/9172738961745716738?origin\x3dhttp://thethirdsign.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
S I G N
the third, the last.
"Gonna be the one that I want,
chitty chitty bang bang!" - 이효리
Irrashaimase... #2
Monday, August 2, 2010

"Wow, kau tidak sendirian, ya? Sebentar, ya."

Selena mengangguk miris. Yah, tahu sendirilah kalau dirinya juga membawa Sergio dan Sander kemari—meskipun kenyataan yang sebenarnya justru mereka berdualah yang bersemangat membawanya kesini dan berbelanja keperluan sekolah milik Selena dan melakukan macam-macam hal yang sinting bersama adik kecilnya itu. Mungkin Selena belum cerita kalau Sander sempat dagu milik seseorang yang tengah berjalan-jalan di jalanan Diagon Alley tadi. Bahkan, mungkin, saking padatnya orang-orang yang berlalu lalang, korban keisengan kakaknya itu sampai tidak sadar sama sekali. Reaksi Selena sendiri malah tertawa kecil, sambil mencubit lengan kakaknya dengan keras. Jangan salah, anak baik seperti dirinya kalau sudah begitu bisa ganas. Hahaha.

Kemudian bola matanya bergulir pelan—tanda kalau dia memang sangat bosan untuk menunggu. Yang dia lakukan selama pegawainya sedang menyiapkan es krim untuknya hanya melamunkan kata-kata Mum beberapa hari yang lalu sebelum dirinya berangkat ke Inggris. Katanya hati-hati dan jaga jarak sama Muggle. Kok, Selena mengambil persepsi kalau dia harus menjauhi para Muggle itu, ya? Tapi, kan, waktu itu Selena hanya menurut saja—suatu tindakan untuk menurutnya tepat. Ah, sudahlah, lupakan saja dulu. Selena memanyunkan bibirnya. Kesal menunggu, sih, sebenarnya. Tapi, untung sajalah pegawainya langsung mendatanginya membawa pesanannya. Mm-hm, mocchi.

"Silahkan, dan totalnya 2 galleon 11 sickle."

Selena lagi-lagi merogoh saku celananya—yah, tadi karena Selena kesal karena harus membawa kantung kulit yang berisikan uang galleon itu, sekalian saja dirinya membawa sedikit uangnya didalam saku celananya. Ide bagus kan? Ahaha. Baru mendapatkan dua galleon, ia langsung meletakkan uang itu diatas konter mejanya dan langsung merogoh sakunya lagi. Oh, well, ketemu juga sisanya dan langsung diletakkan lagi diatas konter. “Emm... itu uangnya pas. Gomapseumnida—eh, terima kasih, maksudnya,” ujarnya sambil malu sendiri karena keceplosan berbicara bahasa Korea. Yeah, ini Inggris dan sepertinya belum ada toleran terhadap bahasa asing seperti Jepang dan Korea. Diambilnya nampan dan menaruhkan tiga gelas butterbeer dan tiga wadah berisikan yoghurt asli dan mocchi-mocchi yang kelihatan enak itu, kemudian membawanya menuju meja dimana Sergio dan Sander sudah duduk di kursinya.

Untung saja, sih, kedua kakaknya itu tidak lari kemana-mana. Selena jadi mencurigai kakaknya, apa jangan-jangan kedua kakaknya itu ninja? Soalnya, kan, mereka bisa menghilang dan muncul tiba-tiba...

...jangan bercanda, ah.


Engg—bisa dikatakan... Out?

Labels: ,