<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/9172738961745716738?origin\x3dhttp://thethirdsign.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
S I G N
the third, the last.
"Gonna be the one that I want,
chitty chitty bang bang!" - 이효리
Wand, Wand, Wand? #2
Monday, August 2, 2010

Umm... ternyata banyak juga yang mampir ke toko ini. Yeah, semua anak yang bernasib sama sepertinya (lebih rincinya, menjadi calon murid Hogwarts karena kebetulan mendapatkan surat dari Hogwarts lewat burung hantu yang datang secara brutal kemudian menjatuhkan suratnya di sembarang tempat) pastinya sangat menginginkan tongkat sihir ada digenggamannya. Semua yang diceritakan lewat dongeng akan berubah menjadi nyata dalam sekejap. Ya, Selena juga sangat menginginkan itu, kok. Dirinya yang dulu hanya bisa gigit jari dengan surat yang dikirimkan kedua kakaknya tentang kehidupan di Hogwarts—yang berakhir di perapian karena Dad tanpa sengaja melihat isi surat dari kedua kakaknya tersebut untuk Selena. Tentang sihir dimana-mana, tongkat sihir milik pribadi, dan sebagainya.

EH IYA, ngomong-ngomong tadi Selena benar mengatakannya, kan? Siapa tahu ini merupakan salah satu jebakan lagi bagi Selena. Ah, dasar Sergio raja jahil di keluarganya.

Kedua bola mata Selena hanya bisa memperhatikan sang pegawai yang sedari tadi mondar-mandir dari konter menuju rak untuk melayani pelanggan-pelanggannya, termasuk Selena sendiri. Well, merepotkan, memang. Mungkin nanti Selena harus berpikir dua kali kalau misalkan ada temannya yang mengajaknya menjadi pegawai magang nanti—misalkan, loh, ya. Sang pegawai kembali dengan tongkatnya, mungkin, karena dia meletakkan dus tongkat didepannya. "Bahan dasar Ivy dengan panjang 28, 5 cm dan berinti serpihan jantung Fenghuang, dengan harga 28 Galleon."

August Rooster-nya China, ya? Selena hanya mengangguk-angguk senang dan langsung meraih tongkat yang sepertinya akan menjadi miliknya itu. Semula, ketika dirinya mulai menggerakan tongkat itu dengan asal, tidak ada reaksi apapun dari si tongkat. Namun, tak lama berselang, ada semacam perasaan... tidak terdefinisikan, memang, namun perasaan itu membuat Selena sedikit yakin kalau tongkat itu memang akan menjadi miliknya. Lagi-lagi cengiran lebar terulas dari paras Asianya yang terlampau mendominasi itu. Gadis kecil yang sengaja menguncirkan rambutnya menjadi dua itu kemudian menoleh kearah belakang. Mengulurkan tangannya yang kini telapak tangannya mulai membuka. Yeah, beginilah kalau bukan kau sendiri yang memegang uang. Sergio hanya cengengesan, dan kemudian menyerahkan uangnya—semoga benar 28 galleon. Awas saja kalau sampai kurang.

Selena langsung meletakkan uang tersebut diatas meja konter, melirik kearah pegawai laki-laki tadi yang tengah melayani orang lain lagi. Well, nasib bekerja di toko yang terlampau ramai ya seperti ini. Kemudian kedua tangannya mulai mengambil dus tongkat miliknya tersebut. Selena tidak akan memakainya sekarang, kok. Kaki kecilnya mulai mengarah lagi kearah Sergio dan Sander yang memperhatikannya sedari tadi. Waktunya berkunjung ke toko lain...

...dan waktu berjalan begitu rumit, ya? Kadang terasa lama, kadang terasa sebentar.


Out xD

Labels: ,