<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/9172738961745716738?origin\x3dhttp://thethirdsign.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
S I G N
the third, the last.
"Gonna be the one that I want,
chitty chitty bang bang!" - 이효리
Pelayanan Pengambilan dan Penukaran Uang #2
Monday, August 2, 2010

Syubidupbidup lalala—Selena menunggu jawaban Sander yang nampaknya sedang memperhatikan apa yang ditunjuk Selena barusan. Mungkin itu cuma semboyan biasa yang sepertinya tidak akan menarik perhatian Selena. Kedua matanya kini mengarah kepada Sergio yang sedang menunggu untuk dilayani... atau sudah dilayani namun si makhluk itu malah pergi untuk mengambil uangnya? Maklumlah, sedari tadi Selena hanya memperhatikan kakak keduanya yang mulai mendekat lagi kearah Selena. Lebih tepatnya, mendekat kearah telinga kiri Selena, membisikkan sesuatu, “That’s... nothing. Cuma semboyan bank biasa, percayalah.” Mulut Selena membentuk huruf O kecil dan langsung mengangguk.

Sergio kini mulai menerima sebuah kantung yang pastinya terisi oleh keping-keping galleon yang sangat banyak itu. Selena memperhatikannya lagi sambil hampir menganga lebar. Serius, benar uang sebanyak itu akan dia pakai di pusat perbelanjaan penyihir yang tua ini? Lagi-lagi Selena hanya bisa memperhatikan Sergio yang langsung mendekati dirinya dan Sander tanpa mengucapkan sepatah kata apapun seperti ‘terima kasih’ kepada makhluk aneh itu. “Goblin-nya jutek.” kata Sergio yang langsung disergah oleh gelak tawa Sander. Selena terkekeh kecil, tidak mengerti maksudnya. Oh well, beginilah kalau menjadi anak yang telmi.

Bergerak melangkah keluar dari bank megah tersebut, Selena malah membalikkan badannya dan sedikit menengadahkan kepalanya. Sungguh, Selena masih penasaran dengan tulisan-tulisan yang tertera pada pintu tersebut. Mm... hmm... hmm... sebuah riddle? Mungkin. Saat ia tengah membacanya untuk kedua kalinya, Sergio dan Sander malah menepuk kedua sisi pundaknya hingga membuat Selena terkaget dengan sangat. Well, memang seharusnya dia pergi dari tempat ini dan memulai belanjanya, bukan terpaku disini untuk memahami kata-kata tersebut.


Out xD

Labels: ,