<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/9172738961745716738?origin\x3dhttp://thethirdsign.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
S I G N
the third, the last.
"Gonna be the one that I want,
chitty chitty bang bang!" - 이효리
Gerbong #5: Kompartemen 14 #1
Monday, August 2, 2010

Yeah, disinilah dirinya sekarang...

Selena kembali menelengkan kepalanya kearah luar, dimana Sergio dan Sander sedang melambaikan tangannya kearah Selena. Pada akhirnya hari ini datang juga, hm? 1 September 1985. Sekarang bahkan sudah beberapa menit sebelum akhirnya jam sebelas tepat, dimana sang raksasa merah akan melaju menuju sekolahnya sekarang, Hogwarts. Sepuluh menit sebelum akhirnya ia menaiki kereta Hogwarts Express itu, tubuh kecilnya masih saja memeluk Sergio dan Sander secara bergantian, seolah dirinya tidak ingin jauh-jauh dari mereka berdua. Bahkan Selena sempat mengajak Sergio dan Sander untuk menemaninya selama di Hogwarts, sayangnya tidak bisa. Well, yah, Selena tahu kalau dua kakaknya itu baru saja lulus dari Hogwarts, dan seharusnya mereka mencari pekerjaan untuk menghidupi hidup mereka sendiri. Namun, Selena tak peduli jikalau kedua kakaknya memilih pekerjaan entah itu di dunia sihir ataupun di dunia Muggle, yang jelas Selena pasti akan merindukan kedua kakaknya itu.

Merindukan keimbisilan mereka, keatraktifan mereka, dan terlalu banyak hal yang terduga dari mereka.

Selena hampir saja meneteskan air matanya ketika menapaki langkah pertamanya di kereta tersebut. Tipikal anak bungsu yang terlalu menyayangi kakak-kakaknya.

Lagi-lagi Selena menghembuskan nafas panjang. Berusaha mengatakan pada dirinya sendiri itu jangan menjadi cengeng. Dad (atau Selena biasanya menyebutnya dengan Vater) selalu mengatakan kepada Selena seperti itu. Kedua kakinya mulai melintasi gerbong... berapa ini? Selena tidak hafal, soalnya tadi dia hanya asal jalan asal menemukan kompartemen yang ia tempati dan tidak terlalu penuh ketika Selena memasuki kompartemen tersebut. Hingga akhirnya, manik hijau lime-nya menemukan kompartemen yang kelihatannya kosong. Ia tidak memperdulikan nomor kompartemennya, toh kalau dia melihatnya sekalipun tetap saja dirinya tidak akan hafal nomornya. Selena memang agak sedikit kesulitan ketika disuruh mengingat angka-angka. Tangan kanannya mulai membuka pintu kompartemen tersebut, dan ternyata benar masih kosong. Rona berseri sangat terlihat dari pipinya. Lengkungan tipis mulai terkembang dari bibirnya. Tatapannya sedikit tidak terlalu minat, tapi ya... lupakan saja.

Gadis itu mulai melangkah memasuki kompartemen tersebut dan sebuah koper yang menurutnya agak sedikit kebesaran (Sergio yang memilih kopernya, jadinya Selena tidak tahu) yang berisikan keperluannya selama di sekolah nanti. Mum (atau Selena biasanya menyebutnya dengan Umma) bahkan telah memasukkan sebuah gaun sederhana dan juga sepasang pantofel berwarna putih bersih. Katanya, jaga-jaga saja kalau misalkan nanti di Hogwarts tiba-tiba ada perayaan tertentu yang mengharuskannya memakai gaun, dan Selena hanya bisa mengangguk dan menuruti apa kata Mum. Ah, oke. Selena mulai berhenti menggeret kopernya dan sosok Asia itu mulai menduduki tempat duduknya. Ia memilih untuk duduk di sebelah kiri dan dekat jendela. Kedua matanya mulai melebar ketika ia melihat sosok Sergio dan Sander dari balik kaca. Kelihatannya mereka akan mulai meninggalkan tempat itu.

SEUNG HAE-OPPA! SA HYUN-OPPA!” dirinya meneriakan nama Korea kedua kakaknya (yeah, Selena lebih suka menyebut Sergio dan Sander dengan nama Koreanya dibanding nama Barat mereka, semua anggota keluarganya juga begitu) sambil mengetukkan tangannya pada kaca. Yah, gagal, memang memanggil mereka karena mereka sudah terlanjur pergi... namun, tadi kalau tidak salah Sander sempat meliriknya sebentar dan memberikan cengirannya kepada Selena. Akhirnya, Selena memutuskan untuk kembali duduk dan termenung sendiri. Mengingat kata Mum, yang katanya Selena harus sedikit menjaga jarak dengan para Muggle dan cobalah lebih akrab dengan para Pureblood juga sedikit toleran terhadap Halfblood.

Apa mungkin Mum punya dendam tertentu dengan para Muggle? Selena—tidak tahu, ah.

Aha—keretanya sudah berangkat, ternyata?
OoC: Sisa lima, gak ada booking-bookingan tempat, please. -___- Selena, Milo, Adeline, Charlie, Tiffa, Sica. SIP, FULL.

Labels: ,