<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/9172738961745716738?origin\x3dhttp://thethirdsign.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
S I G N
the third, the last.
"Gonna be the one that I want,
chitty chitty bang bang!" - 이효리
WANTED: ERIN SHELLEY #2
Monday, August 2, 2010

Bibirnya yang berwarna merah muda alami itu mulai menyentuh permukaan bibir gelas butterbeer yang sedari tadi ia pegang dengan kedua tangannya. Kemudian mengangkatnya sampai kemiringan yang tidak dapat Selena hitung berapa derajatnya hingga akhirnya cairan kuning yang ada didalam gelasnya itu berpindah menuju kerongkongannya. Well, bisa Selena bilang minuman ini enak, kok. Tidak heran berapa banyak penyihir yang menyukai minuman tersebut. Pandangan matanya masih mengarah lurus kearah laki-laki yang tadi ia ajak bicara tersebut. Garis wajahnya khas orang barat... ah, memangnya Selena mengharapkan di tempat ini banyak orang-orang Asia, ya? Sejujurnya memang tidak, sih, Selena ada-ada saja. Tatapannya terpaku sebentar.

Hngg... tadi Selena mau ngomong apa ya tentang laki-laki yang sepertinya baru saja menghampiri temannya itu, ya? Selena lupa. Heu.

“Tentu saja, Nona, akan selalu ada tempat yang kosong untuk gadis secantik anda.”

Sejenak, Selena menurunkan gelasnya tersebut mencapai dadanya dan kemudian memberikan cengiran lebar kearah laki-laki tersebut. Hebat, yah, masih banyak orang baik yang mau duduk bersamanya. “Mm... oke.” jawabnya dengan sederhana ketika kedua bola matanya mendapati laki-laki tersebut membungkuk sebentar kepadanya. Mirip-mirip tradisi orang Jepang ketika mereka saling bertemu, iya tidak? Orang-orang Korea juga biasanya begitu, sih. “Silahkan, anggap saja sebagai rumah sendiri. Kenneth Larz, by the way.” Laki-laki yang mengenalkan diri sebagai Kenneth Larz itu melanjutkan kembali kalimatnya yang sebelumnya. Lalu tersenyum, dan Selena hanya bisa membalasnya dengan senyuman kecut. Ah, rumah ya, katanya? Baginya, sih, rumahnya tetap saja Korea dan Jerman. Dirinya bahkan tidak bisa membayangkan tempat lain sebagai rumahnya, masalahnya. Intinya, Selena merasa aneh saja ketika ada orang yang mengatakan seperti itu. Haha.

Gomapseum—eh, maksudnya terima kasih. Mm... aku... Selena Nelissen,” ujarnya sambil malu sendiri sambil duduk. Yah, sepertinya ini untuk kedua kalinya dirinya salah mengucapkan kalimat. Ini memang kebiasaannya di rumah, ketika dirinya mengucapkan terima kasih, refleks dirinya langsung menggunakan bahasa Korea. Selena suka merasa tidak nyaman jika menyebutnya dengan bahasa Jerman, begitu pula dengan Sergio dan Sander. Bicara soal kedua kakaknya yang imbisil parah itu, mereka belum kunjung kembali, ya? Lagi-lagi gadis kecil itu meneguk isi gelas butterbeernya yang sekarang masih terisi tiga perempatnya. Dirinya bukan gila minum, tidak seperti Sergio yang bisa sekali habis sekali teguk. Kedua matanya mulai mengarah kepada temannya yang kalau tidak salah oleh Kenneth panggil dengan ‘Hermes’? Terkadang indera pendengarannya tidak bisa dipercaya, siapa tahu saja dirinya salah dengar, ‘kan, tadi?

“—mau membantuku, mencari seseorang…?”

Selena tersontak kaget. Mencari seseorang, ya, katanya? Masih mending dia mencari satu orang, Selena ‘kan harus mencari dua orang sekaligus yang merupakan kakaknya. Mereka masih menghilang, sama sepertinya dengan orang yang dicari oleh Kenneth. Ngomong-ngomong, lidahnya agak gatal ketika menyebutkan huruf K, ingin sedikit ia plesetkan menjadi huruf G—well, dalam huruf Korea alias Hangeul ‘kan huruf G dan K itu sama. Ah, sudah, lupakan saja. Tapi, kalau dilihat dari matanya, sepertinya Kenneth memang merasa kehilangan orang tersebut. Sendu. Tidak seperti Selena yang terlalu yakin orang yang dicarinya pasti akan kembali dalam waktu sekejap mata, seperti ninja. Teman laki-lakinya mulai membuka suaranya terlebih dahulu, meminta imbalan, uang. Yah, kebanyakan orang selalu begitu. Ketika dimintai tolong pasti minta imbalannya. Tanpa sadar Selena mendecakkan lidahnya sendiri. Ups.

Menutupi kesalahannya tersebut, Selena malah mengangguk dengan hampir penuh semangat. Pekerjaan mencari-cari orang memang bukan kesukaan Selena, tentu saja. Apalagi kalau yang dicari itu Sergio dan Sander. Tapi, demi orang lain, tidak masalah, ‘kan? “Hmm... boleh, boleh. Memangnya orang seperti apa yang sedang kau cari, Kenneth?” tanyanya dengan penuh penasaran.

Yah, semoga saja orang yang dicari Kenneth bukan tipe-tipe orang seperti Sergio dan Sander. Ha.

Labels: ,