Gerbong #5: Kompartemen 14 #2
Monday, August 2, 2010
Hmm... Sepertinya memang keretanya sudah bergerak menuju tempat tujuan. Sewaktu dirinya berjalan ke kompartemen ini dia bisa merasakan gerakan-gerakan pelan yang bersumber dari kereta, yeah, ancang-ancang kereta yang akan berangkat. Dari balik jendela, Selena bisa melihat sosok Sergio dan Sander yang semakin menjauh dan menjauh, hingga akhirnya tidak terlihat sama sekali. Selena langsung merasa... ada yang sedikit ganjil. Yah, kalian tahu sendiri, ‘kan? Selama musim panas kali ini, dia selalu didampingi oleh Sergio dan Sander. Tidak merasa terlalu asing sendiri di negara ini (andaikan ini Amerika, pasti setidaknya ada beberapa orang yang memiliki wajah oriental seperti dirinya) karena didampingi oleh dua orang kakak yang memiliki paras wajah yang sama dengannya. Corak Asia yang tidak terlalu kental di negara-negara Eropa. Tapi, sepertinya suatu saat dirinya juga pasti akan bertemu dengan orang yang sama dengannya—memiliki darah Asia, maksudnya.
Ada suara pintu terbuka.
“Siang.”
Sebuah suara seolah memanggilnya, sembari melambaikan kedua tangannya. “Aku—duduk di sini?” lanjut sang pemuda berambut coklat gelap dan memiliki warna mata yang hampir sama dengannya yang tengah menjadi lawan bicaranya sambil menunjuk kearah kursi dihadapan Selena. Well, mungkin pemuda ini sempat mendengarnya meneriaki nama kedua kakaknya dengan bahasa Korea, yang mana tidak semua orang bisa mengerti bahasanya—apalagi orang Barat. Bahkan bisa sampai disalah artikan, seperti Kenneth yang tiba-tiba mengartikan gomapseumnida (yang arti sebenarnya adalah ‘terima kasih’) dengan goblin mesum. Sepertinya memang dirinya harus membiasakan diri untuk mengubah ucapan sederhana yang biasa ia lontarkan dengan bahasa Korea menjadi bahasa Inggris, agar tidak disalah artikan lagi oleh orang lain. Sang gadis menyipitkan matanya dan kemudian tersenyum tidak terlalu tipis seperti tadi. Kemudian mengangguk sedikit, dan... “Boleh, kok, silahkan saja.”
"Hello, apakah aku boleh bergabung dengan kalian? Oh ya, bolehkah aku duduk disini?"
Suara yang lainnya lagi, kali ini perempuan berambut blonde. Pernah sekali Selena mendengar racauan Mum (betul atau tidaknya entahlah, dia cuma mendengarnya sekilas) kalau dia ingin memiliki rambut dengan warna yang sama dengan anak perempuan yang tadi. Lagi-lagi, cengiran tipis disertai anggukan kecil. “Iya, boleh, kok!” ujarnya dengan nada yang sedikit lebih bersemangat dibandingkan sebelumnya. Selena jadi memikirkan sesuatu. Kereta ini memang ramai, cuma kalau bisa Selena mengakui kompartemen yang ia tempati sekarang murni alami. Tidak seperti yang lainnya yang mungkin ramai karena tempat tersebut sudah dibooking terlebih dahulu oleh orang pertama yang mendatangi kompartemen yang kebetulan kosong itu.
“Gabung.”
Suara lain. Kali ini laki-laki berambut merah. Kelihatannya sih kelelahan, sekaligus terlihat seperti menahan emosi. Tapi, Selena sendiri tidak tahu, ya. Dia sendiri hanya melihat dari wajahnya yang hampir dibanjiri oleh keringat itu. Hijau lime-nya kini mulai menatap lurus kearah laki-laki tersebut yang tengah melanjutkan kata-katanya yang tadi. Na-ah, pemikirannya hampir sama dengan kata-kata yang diucapkan oleh pemuda itu tadi. “jangan bilang sudah taken, penuh, tidak menerima orang—blargh.” begitulah lanjutan kata-kata pemuda yang mulai menduduki tempat duduk paling dekat dengan pintu itu. “Tidak, kok. Tidak dibooking oleh siapapun lagi,” ujarnya dengan nada yang sama seperti ketika dirinya berinteraksi dengan perempuan yang kini duduk disebelahnya itu.
Semakin penuh, bahkan kelihatannya ruang yang kelihatannya berbentuk persegi itu tampak semakin sempit karena kehadiran beberapa orang. Namun, tidak masalah. Toh memang pada dasarnya ruangan seperti ini diciptakan untuk menampung orang-orang yang akan menaiki ular besar ini sampai ke tujuannya, ‘kan? Selena mulai terkekeh kecil, tak ada seorangpun yang melihatnya terkekeh kecil seperti sekarang—dan kelihatannya sudah ada dua orang yang sukses membuat tempat ini bisa dikatakan penuh. Dua-duanya perempuan, dan sama-sama Asia. Yeah, itu yang membuatnya sedikit merasa senang sekarang ini. Ternyata dugaannya tidak meleset, suatu saat dia pasti akan menemukan orang lain yang berparas sama-sama Asia dengannya, dan sekarang dia telah menemukannya. Well, jangan membayangkan Selena seperti seseorang yang telah menemukan harta karun berharga di pulau antah berantah, karena nyatanya gadis itu tidak kelihatan seperti itu sekarang.
Salah satu dari dua orang itu telah duduk tanpa mengatakan hal semacam ‘bolehkah-aku-duduk-disini?’ seperti yang dilakukan dua orang pertama yang datang kesini. Kemudian memberanikan diri untuk mengenalkan diri. Tiffany—dan Selena berusaha untuk mengingat namanya dan wajahnya. Sementara yang satu lagi mulai duduk juga dan mulai menyapa orang-orang yang ada didalam kompartemen tersebut. “Err—kalau aku, sih, ya baik-baik saja,” ujarnya asal. Memang terkadang ada beberapa pertanyaan yang tak seharusnya dijawab karena mungkin jawabannya itu sendiri sudah ada didepan mata. Manik hijau lime-nya mulai mengarah keseluruh penjuru kompartemen. Yep, sangat terlihat jelas kalau kompartemen ini benar-benar penuh. “Ngomong-ngomong...”
"Apa sudah penuh? Kalau penuh tidak apa-apa,"
Arr—diinterupsi. Cih. Gadis yang bernama Selena itu sedikit mengeluarkan decakan pelan. Kemudian kembali seperti biasanya. Selena mulai bersuara, menjawab pertanyaan anak perempuan itu tadi. “Emm... yah, sudah penuh. Sorry,” ...karena siapa yang cepat, dia yang dapat. Teori itu berlaku, ‘kan, disini? Selena mulai mengulas senyum tipisnya, kemudian kedua bola matanya sedikit melirik kearah kaca. Terlihat pemandangan asing lainnya yang belum pernah Selena lihat sebelumnya. Well, mungkin ini akan menjadi perjalanan yang cukup panjang dan menyenangkan, karena sudah pasti kereta ini akan mengarah menuju Hogwarts, ‘kan? Sesaat kemudian, pandangannya mengarah kepada semua orang yang ada di kompartemen ini, satu per satu. “Mm... yah, ngomong-ngomong, mulai memperkenalkan diri, yuk! Karena, yah, aku dan mungkin ada diantara kalian juga yang merupakan anak baru...” ujarnya. Jarang-jarang Selena seatraktif begini kepada orang lain, karena memang Selena itu... a little bit introvert. “Mm... aku...” dirinya mulai menunjukkan jemari telunjuknya pada dadanya, “Selena Nelissen, kalian bisa memanggilku Selena. Salam kenal,” ujarnya kembali dan diakhiri dengan tundukkan kecil. “Selanjutnya...?”
...Selena menunjuk asal. Mengenal orang lain bukan perbuatan yang dosa, ‘kan?
OoC: Yeah, meskipun udah disebutin di postan pertama saya, it’s FULL, people—dan karena pada dasarnya saya gatau mau ngapain lagi di kompartemen, jadi maen kenal-kenalan gapapa, ‘kan? Gak usah berurutan juga gapapa, karena emang Selena nunjuknya ngasal =)) *shot*
Labels: Date: 29122009, Hogwarts Express: Kompartemen 14