WANTED: ERIN SHELLEY #3
Monday, August 2, 2010
Well, sebenarnya Selena tidak terlalu pintar untuk mengajari siapapun, terlebih soal bahasa Korea. Dulu juga sempat ada temannya Selena yang juga minta diajarkan bahasa Korea, namun dirinya memilih bungkam dan langsung menuruti apa kata temannya itu.
Mungkin nanti dirinya akan memiliki seorang ‘murid’ lagi—Kenneth, barangkali?
“Kelihatannya sangat menarik, tentu saja boleh—”
Benar saja, ‘kan? Kenneth—sosok yang kini ada dihadapannya sekarang, sekali lagi—melengkungkan bibirnya, tersenyum untuk Selena. Dirinya juga hanya bisa membalasnya dengan anggukan pelan dan tersenyum lebar. Pikir Selena, Kenneth adalah sosok yang lumayan menyenangkan dan terkadang mungkin bisa membuatnya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Contoh saja tadi, ketika bajunya terkena makanan yang berasal dari anak laki-laki tadi yang ia ajak duduk juga, Selena aslinya mau menggelengkan kepalanya. Seolah tengah melihat kedua kakaknya dan tingkah laku mereka yang tidak bisa ditebak oleh Selena sama sekali. Kedua bola mata Selena menatap lurus kearah wajah pemuda itu. Memperhatikan warna kulitnya yang putih pucat—albino? “—mau mengajariku bahasa untuk mengerti hatimu, juga, Selena? Suatu saat nanti—ah, kau calon murid Hogwarts, kurasa?” ujar Kenneth, lagi, kepadanya.
Gulped. Refleks, Nelissen bungsu itu langsung mengangguk pelan.
.....
"Tak usah repot, kau tak bisa mengajari anjing degil trik baru."
Kata-kata Hermes itu didengar oleh Selena hampir bersamaan dengan kata-kata Kenneth yang barusan. Dalam seketika, Selena langsung mengedipkan matanya lagi dan pandangannya langsung mengarah kepada Hermes dengan tatapan heran. Well, orang itu seakan penyelamat disetiap Selena tergoda untuk mencubit pipi Kenneth. Yah, katakanlah Selena tidak wajar untuk permasalahan yang satu ini. Kemudian, kurang dari satu detik, Selena sudah melihat lagi kearah foto Erin yang bertumpuk-tumpuk itu. Kedua tangannya yang tadi menyandar diatas meja kini mulai menyerempet kearah samping, karena hampir sebagian permukaan dari meja itu sudah terkena tumpahan susu. Dipikir-pikir seharusnya ada satu orang tukang bersih-bersih yang segera mendatangi mejanya dan mengelapnya hingga bersih dan kering sehingga kedua tangannya tidak harus menepi di bagian pinggir—sangat pinggir, tepatnya, sampai hampir mau jatuh—meja tersebut.
Mengenaskan.
Tatapan Selena kini mulai bergantian kearah Kenneth dan Hermes. Pemuda berkulit albino yang satu itu tampak tercengang dengan kata-kata Hermes yang sebelumnya, sementara Hermes sendiri tampak mulai mendekati Selena. Lagi-lagi, Selena hanya bisa menatap heran kearah Hermes, yang pasti Hermes tidak akan mendekatinya hanya sekedar untuk memperkenalkan diri. Selena sendiri sudah tahu nama Hermes dari Kenneth yang menyebutkan nama sosok pemuda yang satu lagi itu, sementara Hermes sendiri pastinya masih memiliki telinga yang normal sehingga saat Selena memperkenalkan diri kepada Kenneth tentunya Hermes masih bisa mendengar suaranya. Toh, dia tidak memperkenalkan diri dengan suara yang terlampau pelan seperti seseorang yang tengah melihat hantu dan merasakan ketakutan. Meskipun Selena akui, dirinya juga akan merasakan ketakutan ketika dirinya melihat hantu secara langsung maupun tidak langsung—misalkan lewat film yang kata orang kacangan ternyata meningkatkan adrenalin dalam diri.
"Hati-hati, kau juga mungkin nanti diuntitnya,"
Kedua matanya sukses membelalak. Selena sendiri kaget dengan kata-kata Hermes tersebut. Benarkah Kenneth akan sampai sebegitunya terhadap Nelissen bungsu ini? Hijau lime-nya melirik kearah Hermes yang tengah tersenyum tengil. Mirip Sergio...
"Untuk saat ini, nikmati saja masa damaimu."
...benar, hampir-hampir mirip Sergio. Lirikan matanya masih mengarah kepada Hermes yang mulai berbicara lagi kepada Kenneth. Kemudian, tiba-tiba saja pemuda itu mengarahkan pandangannya lagi kepada Selena. Selena, yang mulai terhasut Hermes dengan berpikir bahwa tatapannya seolah berkata ‘dimana-dia-aku-mau-mengikutinya-sekarang’, menatap lurus lagi kearah iris hazel milik sang pemuda. "Dimana? Kau melihat Erin dimana, Selena?!" tanya sang pemuda dengan penuh antusias. Setidaknya, pemikiran Selena yang baru itu lumayan tepat sasaran. “Mm—aku...” kata-katanya tadi langsung diinterupsi karena Kenneth keburu membagikan sebagian foto-foto Erin yang ada diatas meja tadi pada Hermes dan Selena sendiri. Kedua bola matanya meneliti lagi satu persatu foto yang diberikan oleh pemuda tersebut. Sementara itu, kedua belah telinganya masih saja mendengarkan kata-kata Kenneth. Selena yakin pernah melihatnya tadi sewaktu belanja...
...Selena tadi belanja dimana bersama Sergio dan Sander? Diagon Alley.
“Hmm...” hanya itu suara yang bisa Selena keluarkan dari mulutnya sembari meneliti foto-foto tersebut.
"Erm... Tunggu sobat, kau yakin Erin tidak menghindarimu kan? Karena yah, kau tahu kan, kau baru saja menggoda Selena."
Baru saja Selena ingin bersuara kembali, Hermes langsung menyerbu Kenneth dengan kata-kata seperti tadi. Tentu saja, Selena hanya bisa terkaget ketika mendengarkan pernyataan tersebut. Menggoda dirinya, katanya? Selena lagi-lagi mulai menatap Hermes dan Kenneth bergantian.
Sungguhan?
Labels: Date: 29122009, Thread: WANTED: ERIN SHELLEY