WANTED: ERIN SHELLEY #3
Monday, August 2, 2010
Well, sebenarnya Selena tidak terlalu pintar untuk mengajari siapapun, terlebih soal bahasa Korea. Dulu juga sempat ada temannya Selena yang juga minta diajarkan bahasa Korea, namun dirinya memilih bungkam dan langsung menuruti apa kata temannya itu.
Mungkin nanti dirinya akan memiliki seorang ‘murid’ lagi—Kenneth, barangkali?
“Kelihatannya sangat menarik, tentu saja boleh—”
Benar saja, ‘kan? Kenneth—sosok yang kini ada dihadapannya sekarang, sekali lagi—melengkungkan bibirnya, tersenyum untuk Selena. Dirinya juga hanya bisa membalasnya dengan anggukan pelan dan tersenyum lebar. Pikir Selena, Kenneth adalah sosok yang lumayan menyenangkan dan terkadang mungkin bisa membuatnya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Contoh saja tadi, ketika bajunya terkena makanan yang berasal dari anak laki-laki tadi yang ia ajak duduk juga, Selena aslinya mau menggelengkan kepalanya. Seolah tengah melihat kedua kakaknya dan tingkah laku mereka yang tidak bisa ditebak oleh Selena sama sekali. Kedua bola mata Selena menatap lurus kearah wajah pemuda itu. Memperhatikan warna kulitnya yang putih pucat—albino? “—mau mengajariku bahasa untuk mengerti hatimu, juga, Selena? Suatu saat nanti—ah, kau calon murid Hogwarts, kurasa?” ujar Kenneth, lagi, kepadanya.
Gulped. Refleks, Nelissen bungsu itu langsung mengangguk pelan.
.....
"Tak usah repot, kau tak bisa mengajari anjing degil trik baru."
Kata-kata Hermes itu didengar oleh Selena hampir bersamaan dengan kata-kata Kenneth yang barusan. Dalam seketika, Selena langsung mengedipkan matanya lagi dan pandangannya langsung mengarah kepada Hermes dengan tatapan heran. Well, orang itu seakan penyelamat disetiap Selena tergoda untuk mencubit pipi Kenneth. Yah, katakanlah Selena tidak wajar untuk permasalahan yang satu ini. Kemudian, kurang dari satu detik, Selena sudah melihat lagi kearah foto Erin yang bertumpuk-tumpuk itu. Kedua tangannya yang tadi menyandar diatas meja kini mulai menyerempet kearah samping, karena hampir sebagian permukaan dari meja itu sudah terkena tumpahan susu. Dipikir-pikir seharusnya ada satu orang tukang bersih-bersih yang segera mendatangi mejanya dan mengelapnya hingga bersih dan kering sehingga kedua tangannya tidak harus menepi di bagian pinggir—sangat pinggir, tepatnya, sampai hampir mau jatuh—meja tersebut.
Mengenaskan.
Tatapan Selena kini mulai bergantian kearah Kenneth dan Hermes. Pemuda berkulit albino yang satu itu tampak tercengang dengan kata-kata Hermes yang sebelumnya, sementara Hermes sendiri tampak mulai mendekati Selena. Lagi-lagi, Selena hanya bisa menatap heran kearah Hermes, yang pasti Hermes tidak akan mendekatinya hanya sekedar untuk memperkenalkan diri. Selena sendiri sudah tahu nama Hermes dari Kenneth yang menyebutkan nama sosok pemuda yang satu lagi itu, sementara Hermes sendiri pastinya masih memiliki telinga yang normal sehingga saat Selena memperkenalkan diri kepada Kenneth tentunya Hermes masih bisa mendengar suaranya. Toh, dia tidak memperkenalkan diri dengan suara yang terlampau pelan seperti seseorang yang tengah melihat hantu dan merasakan ketakutan. Meskipun Selena akui, dirinya juga akan merasakan ketakutan ketika dirinya melihat hantu secara langsung maupun tidak langsung—misalkan lewat film yang kata orang kacangan ternyata meningkatkan adrenalin dalam diri.
"Hati-hati, kau juga mungkin nanti diuntitnya,"
Kedua matanya sukses membelalak. Selena sendiri kaget dengan kata-kata Hermes tersebut. Benarkah Kenneth akan sampai sebegitunya terhadap Nelissen bungsu ini? Hijau lime-nya melirik kearah Hermes yang tengah tersenyum tengil. Mirip Sergio...
"Untuk saat ini, nikmati saja masa damaimu."
...benar, hampir-hampir mirip Sergio. Lirikan matanya masih mengarah kepada Hermes yang mulai berbicara lagi kepada Kenneth. Kemudian, tiba-tiba saja pemuda itu mengarahkan pandangannya lagi kepada Selena. Selena, yang mulai terhasut Hermes dengan berpikir bahwa tatapannya seolah berkata ‘dimana-dia-aku-mau-mengikutinya-sekarang’, menatap lurus lagi kearah iris hazel milik sang pemuda. "Dimana? Kau melihat Erin dimana, Selena?!" tanya sang pemuda dengan penuh antusias. Setidaknya, pemikiran Selena yang baru itu lumayan tepat sasaran. “Mm—aku...” kata-katanya tadi langsung diinterupsi karena Kenneth keburu membagikan sebagian foto-foto Erin yang ada diatas meja tadi pada Hermes dan Selena sendiri. Kedua bola matanya meneliti lagi satu persatu foto yang diberikan oleh pemuda tersebut. Sementara itu, kedua belah telinganya masih saja mendengarkan kata-kata Kenneth. Selena yakin pernah melihatnya tadi sewaktu belanja...
...Selena tadi belanja dimana bersama Sergio dan Sander? Diagon Alley.
“Hmm...” hanya itu suara yang bisa Selena keluarkan dari mulutnya sembari meneliti foto-foto tersebut.
"Erm... Tunggu sobat, kau yakin Erin tidak menghindarimu kan? Karena yah, kau tahu kan, kau baru saja menggoda Selena."
Baru saja Selena ingin bersuara kembali, Hermes langsung menyerbu Kenneth dengan kata-kata seperti tadi. Tentu saja, Selena hanya bisa terkaget ketika mendengarkan pernyataan tersebut. Menggoda dirinya, katanya? Selena lagi-lagi mulai menatap Hermes dan Kenneth bergantian.
Sungguhan?
Labels: Date: 29122009, Thread: WANTED: ERIN SHELLEY
Gerbong #5: Kompartemen 14 #2
Hmm... Sepertinya memang keretanya sudah bergerak menuju tempat tujuan. Sewaktu dirinya berjalan ke kompartemen ini dia bisa merasakan gerakan-gerakan pelan yang bersumber dari kereta, yeah, ancang-ancang kereta yang akan berangkat. Dari balik jendela, Selena bisa melihat sosok Sergio dan Sander yang semakin menjauh dan menjauh, hingga akhirnya tidak terlihat sama sekali. Selena langsung merasa... ada yang sedikit ganjil. Yah, kalian tahu sendiri, ‘kan? Selama musim panas kali ini, dia selalu didampingi oleh Sergio dan Sander. Tidak merasa terlalu asing sendiri di negara ini (andaikan ini Amerika, pasti setidaknya ada beberapa orang yang memiliki wajah oriental seperti dirinya) karena didampingi oleh dua orang kakak yang memiliki paras wajah yang sama dengannya. Corak Asia yang tidak terlalu kental di negara-negara Eropa. Tapi, sepertinya suatu saat dirinya juga pasti akan bertemu dengan orang yang sama dengannya—memiliki darah Asia, maksudnya.
Ada suara pintu terbuka.
“Siang.”
Sebuah suara seolah memanggilnya, sembari melambaikan kedua tangannya. “Aku—duduk di sini?” lanjut sang pemuda berambut coklat gelap dan memiliki warna mata yang hampir sama dengannya yang tengah menjadi lawan bicaranya sambil menunjuk kearah kursi dihadapan Selena. Well, mungkin pemuda ini sempat mendengarnya meneriaki nama kedua kakaknya dengan bahasa Korea, yang mana tidak semua orang bisa mengerti bahasanya—apalagi orang Barat. Bahkan bisa sampai disalah artikan, seperti Kenneth yang tiba-tiba mengartikan gomapseumnida (yang arti sebenarnya adalah ‘terima kasih’) dengan goblin mesum. Sepertinya memang dirinya harus membiasakan diri untuk mengubah ucapan sederhana yang biasa ia lontarkan dengan bahasa Korea menjadi bahasa Inggris, agar tidak disalah artikan lagi oleh orang lain. Sang gadis menyipitkan matanya dan kemudian tersenyum tidak terlalu tipis seperti tadi. Kemudian mengangguk sedikit, dan... “Boleh, kok, silahkan saja.”
"Hello, apakah aku boleh bergabung dengan kalian? Oh ya, bolehkah aku duduk disini?"
Suara yang lainnya lagi, kali ini perempuan berambut blonde. Pernah sekali Selena mendengar racauan Mum (betul atau tidaknya entahlah, dia cuma mendengarnya sekilas) kalau dia ingin memiliki rambut dengan warna yang sama dengan anak perempuan yang tadi. Lagi-lagi, cengiran tipis disertai anggukan kecil. “Iya, boleh, kok!” ujarnya dengan nada yang sedikit lebih bersemangat dibandingkan sebelumnya. Selena jadi memikirkan sesuatu. Kereta ini memang ramai, cuma kalau bisa Selena mengakui kompartemen yang ia tempati sekarang murni alami. Tidak seperti yang lainnya yang mungkin ramai karena tempat tersebut sudah dibooking terlebih dahulu oleh orang pertama yang mendatangi kompartemen yang kebetulan kosong itu.
“Gabung.”
Suara lain. Kali ini laki-laki berambut merah. Kelihatannya sih kelelahan, sekaligus terlihat seperti menahan emosi. Tapi, Selena sendiri tidak tahu, ya. Dia sendiri hanya melihat dari wajahnya yang hampir dibanjiri oleh keringat itu. Hijau lime-nya kini mulai menatap lurus kearah laki-laki tersebut yang tengah melanjutkan kata-katanya yang tadi. Na-ah, pemikirannya hampir sama dengan kata-kata yang diucapkan oleh pemuda itu tadi. “jangan bilang sudah taken, penuh, tidak menerima orang—blargh.” begitulah lanjutan kata-kata pemuda yang mulai menduduki tempat duduk paling dekat dengan pintu itu. “Tidak, kok. Tidak dibooking oleh siapapun lagi,” ujarnya dengan nada yang sama seperti ketika dirinya berinteraksi dengan perempuan yang kini duduk disebelahnya itu.
Semakin penuh, bahkan kelihatannya ruang yang kelihatannya berbentuk persegi itu tampak semakin sempit karena kehadiran beberapa orang. Namun, tidak masalah. Toh memang pada dasarnya ruangan seperti ini diciptakan untuk menampung orang-orang yang akan menaiki ular besar ini sampai ke tujuannya, ‘kan? Selena mulai terkekeh kecil, tak ada seorangpun yang melihatnya terkekeh kecil seperti sekarang—dan kelihatannya sudah ada dua orang yang sukses membuat tempat ini bisa dikatakan penuh. Dua-duanya perempuan, dan sama-sama Asia. Yeah, itu yang membuatnya sedikit merasa senang sekarang ini. Ternyata dugaannya tidak meleset, suatu saat dia pasti akan menemukan orang lain yang berparas sama-sama Asia dengannya, dan sekarang dia telah menemukannya. Well, jangan membayangkan Selena seperti seseorang yang telah menemukan harta karun berharga di pulau antah berantah, karena nyatanya gadis itu tidak kelihatan seperti itu sekarang.
Salah satu dari dua orang itu telah duduk tanpa mengatakan hal semacam ‘bolehkah-aku-duduk-disini?’ seperti yang dilakukan dua orang pertama yang datang kesini. Kemudian memberanikan diri untuk mengenalkan diri. Tiffany—dan Selena berusaha untuk mengingat namanya dan wajahnya. Sementara yang satu lagi mulai duduk juga dan mulai menyapa orang-orang yang ada didalam kompartemen tersebut. “Err—kalau aku, sih, ya baik-baik saja,” ujarnya asal. Memang terkadang ada beberapa pertanyaan yang tak seharusnya dijawab karena mungkin jawabannya itu sendiri sudah ada didepan mata. Manik hijau lime-nya mulai mengarah keseluruh penjuru kompartemen. Yep, sangat terlihat jelas kalau kompartemen ini benar-benar penuh. “Ngomong-ngomong...”
"Apa sudah penuh? Kalau penuh tidak apa-apa,"
Arr—diinterupsi. Cih. Gadis yang bernama Selena itu sedikit mengeluarkan decakan pelan. Kemudian kembali seperti biasanya. Selena mulai bersuara, menjawab pertanyaan anak perempuan itu tadi. “Emm... yah, sudah penuh. Sorry,” ...karena siapa yang cepat, dia yang dapat. Teori itu berlaku, ‘kan, disini? Selena mulai mengulas senyum tipisnya, kemudian kedua bola matanya sedikit melirik kearah kaca. Terlihat pemandangan asing lainnya yang belum pernah Selena lihat sebelumnya. Well, mungkin ini akan menjadi perjalanan yang cukup panjang dan menyenangkan, karena sudah pasti kereta ini akan mengarah menuju Hogwarts, ‘kan? Sesaat kemudian, pandangannya mengarah kepada semua orang yang ada di kompartemen ini, satu per satu. “Mm... yah, ngomong-ngomong, mulai memperkenalkan diri, yuk! Karena, yah, aku dan mungkin ada diantara kalian juga yang merupakan anak baru...” ujarnya. Jarang-jarang Selena seatraktif begini kepada orang lain, karena memang Selena itu... a little bit introvert. “Mm... aku...” dirinya mulai menunjukkan jemari telunjuknya pada dadanya, “Selena Nelissen, kalian bisa memanggilku Selena. Salam kenal,” ujarnya kembali dan diakhiri dengan tundukkan kecil. “Selanjutnya...?”
...Selena menunjuk asal. Mengenal orang lain bukan perbuatan yang dosa, ‘kan?
OoC: Yeah, meskipun udah disebutin di postan pertama saya, it’s FULL, people—dan karena pada dasarnya saya gatau mau ngapain lagi di kompartemen, jadi maen kenal-kenalan gapapa, ‘kan? Gak usah berurutan juga gapapa, karena emang Selena nunjuknya ngasal =)) *shot*
Labels: Date: 29122009, Hogwarts Express: Kompartemen 14
Gerbong #5: Kompartemen 14 #1
Yeah, disinilah dirinya sekarang...
Selena kembali menelengkan kepalanya kearah luar, dimana Sergio dan Sander sedang melambaikan tangannya kearah Selena. Pada akhirnya hari ini datang juga, hm? 1 September 1985. Sekarang bahkan sudah beberapa menit sebelum akhirnya jam sebelas tepat, dimana sang raksasa merah akan melaju menuju sekolahnya sekarang, Hogwarts. Sepuluh menit sebelum akhirnya ia menaiki kereta Hogwarts Express itu, tubuh kecilnya masih saja memeluk Sergio dan Sander secara bergantian, seolah dirinya tidak ingin jauh-jauh dari mereka berdua. Bahkan Selena sempat mengajak Sergio dan Sander untuk menemaninya selama di Hogwarts, sayangnya tidak bisa. Well, yah, Selena tahu kalau dua kakaknya itu baru saja lulus dari Hogwarts, dan seharusnya mereka mencari pekerjaan untuk menghidupi hidup mereka sendiri. Namun, Selena tak peduli jikalau kedua kakaknya memilih pekerjaan entah itu di dunia sihir ataupun di dunia Muggle, yang jelas Selena pasti akan merindukan kedua kakaknya itu.
Merindukan keimbisilan mereka, keatraktifan mereka, dan terlalu banyak hal yang terduga dari mereka.
Selena hampir saja meneteskan air matanya ketika menapaki langkah pertamanya di kereta tersebut. Tipikal anak bungsu yang terlalu menyayangi kakak-kakaknya.
Lagi-lagi Selena menghembuskan nafas panjang. Berusaha mengatakan pada dirinya sendiri itu jangan menjadi cengeng. Dad (atau Selena biasanya menyebutnya dengan Vater) selalu mengatakan kepada Selena seperti itu. Kedua kakinya mulai melintasi gerbong... berapa ini? Selena tidak hafal, soalnya tadi dia hanya asal jalan asal menemukan kompartemen yang ia tempati dan tidak terlalu penuh ketika Selena memasuki kompartemen tersebut. Hingga akhirnya, manik hijau lime-nya menemukan kompartemen yang kelihatannya kosong. Ia tidak memperdulikan nomor kompartemennya, toh kalau dia melihatnya sekalipun tetap saja dirinya tidak akan hafal nomornya. Selena memang agak sedikit kesulitan ketika disuruh mengingat angka-angka. Tangan kanannya mulai membuka pintu kompartemen tersebut, dan ternyata benar masih kosong. Rona berseri sangat terlihat dari pipinya. Lengkungan tipis mulai terkembang dari bibirnya. Tatapannya sedikit tidak terlalu minat, tapi ya... lupakan saja.
Gadis itu mulai melangkah memasuki kompartemen tersebut dan sebuah koper yang menurutnya agak sedikit kebesaran (Sergio yang memilih kopernya, jadinya Selena tidak tahu) yang berisikan keperluannya selama di sekolah nanti. Mum (atau Selena biasanya menyebutnya dengan Umma) bahkan telah memasukkan sebuah gaun sederhana dan juga sepasang pantofel berwarna putih bersih. Katanya, jaga-jaga saja kalau misalkan nanti di Hogwarts tiba-tiba ada perayaan tertentu yang mengharuskannya memakai gaun, dan Selena hanya bisa mengangguk dan menuruti apa kata Mum. Ah, oke. Selena mulai berhenti menggeret kopernya dan sosok Asia itu mulai menduduki tempat duduknya. Ia memilih untuk duduk di sebelah kiri dan dekat jendela. Kedua matanya mulai melebar ketika ia melihat sosok Sergio dan Sander dari balik kaca. Kelihatannya mereka akan mulai meninggalkan tempat itu.
“SEUNG HAE-OPPA! SA HYUN-OPPA!” dirinya meneriakan nama Korea kedua kakaknya (yeah, Selena lebih suka menyebut Sergio dan Sander dengan nama Koreanya dibanding nama Barat mereka, semua anggota keluarganya juga begitu) sambil mengetukkan tangannya pada kaca. Yah, gagal, memang memanggil mereka karena mereka sudah terlanjur pergi... namun, tadi kalau tidak salah Sander sempat meliriknya sebentar dan memberikan cengirannya kepada Selena. Akhirnya, Selena memutuskan untuk kembali duduk dan termenung sendiri. Mengingat kata Mum, yang katanya Selena harus sedikit menjaga jarak dengan para Muggle dan cobalah lebih akrab dengan para Pureblood juga sedikit toleran terhadap Halfblood.
Apa mungkin Mum punya dendam tertentu dengan para Muggle? Selena—tidak tahu, ah.
Aha—keretanya sudah berangkat, ternyata?
OoC:
Labels: Date: 29122009, Hogwarts Express: Kompartemen 14
WANTED: ERIN SHELLEY #2
Bibirnya yang berwarna merah muda alami itu mulai menyentuh permukaan bibir gelas butterbeer yang sedari tadi ia pegang dengan kedua tangannya. Kemudian mengangkatnya sampai kemiringan yang tidak dapat Selena hitung berapa derajatnya hingga akhirnya cairan kuning yang ada didalam gelasnya itu berpindah menuju kerongkongannya. Well, bisa Selena bilang minuman ini enak, kok. Tidak heran berapa banyak penyihir yang menyukai minuman tersebut. Pandangan matanya masih mengarah lurus kearah laki-laki yang tadi ia ajak bicara tersebut. Garis wajahnya khas orang barat... ah, memangnya Selena mengharapkan di tempat ini banyak orang-orang Asia, ya? Sejujurnya memang tidak, sih, Selena ada-ada saja. Tatapannya terpaku sebentar.
Hngg... tadi Selena mau ngomong apa ya tentang laki-laki yang sepertinya baru saja menghampiri temannya itu, ya? Selena lupa. Heu.
“Tentu saja, Nona, akan selalu ada tempat yang kosong untuk gadis secantik anda.”
Sejenak, Selena menurunkan gelasnya tersebut mencapai dadanya dan kemudian memberikan cengiran lebar kearah laki-laki tersebut. Hebat, yah, masih banyak orang baik yang mau duduk bersamanya. “Mm... oke.” jawabnya dengan sederhana ketika kedua bola matanya mendapati laki-laki tersebut membungkuk sebentar kepadanya. Mirip-mirip tradisi orang Jepang ketika mereka saling bertemu, iya tidak? Orang-orang Korea juga biasanya begitu, sih. “Silahkan, anggap saja sebagai rumah sendiri. Kenneth Larz, by the way.” Laki-laki yang mengenalkan diri sebagai Kenneth Larz itu melanjutkan kembali kalimatnya yang sebelumnya. Lalu tersenyum, dan Selena hanya bisa membalasnya dengan senyuman kecut. Ah, rumah ya, katanya? Baginya, sih, rumahnya tetap saja Korea dan Jerman. Dirinya bahkan tidak bisa membayangkan tempat lain sebagai rumahnya, masalahnya. Intinya, Selena merasa aneh saja ketika ada orang yang mengatakan seperti itu. Haha.
“Gomapseum—eh, maksudnya terima kasih. Mm... aku... Selena Nelissen,” ujarnya sambil malu sendiri sambil duduk. Yah, sepertinya ini untuk kedua kalinya dirinya salah mengucapkan kalimat. Ini memang kebiasaannya di rumah, ketika dirinya mengucapkan terima kasih, refleks dirinya langsung menggunakan bahasa Korea. Selena suka merasa tidak nyaman jika menyebutnya dengan bahasa Jerman, begitu pula dengan Sergio dan Sander. Bicara soal kedua kakaknya yang imbisil parah itu, mereka belum kunjung kembali, ya? Lagi-lagi gadis kecil itu meneguk isi gelas butterbeernya yang sekarang masih terisi tiga perempatnya. Dirinya bukan gila minum, tidak seperti Sergio yang bisa sekali habis sekali teguk. Kedua matanya mulai mengarah kepada temannya yang kalau tidak salah oleh Kenneth panggil dengan ‘Hermes’? Terkadang indera pendengarannya tidak bisa dipercaya, siapa tahu saja dirinya salah dengar, ‘kan, tadi?
“—mau membantuku, mencari seseorang…?”
Selena tersontak kaget. Mencari seseorang, ya, katanya? Masih mending dia mencari satu orang, Selena ‘kan harus mencari dua orang sekaligus yang merupakan kakaknya. Mereka masih menghilang, sama sepertinya dengan orang yang dicari oleh Kenneth. Ngomong-ngomong, lidahnya agak gatal ketika menyebutkan huruf K, ingin sedikit ia plesetkan menjadi huruf G—well, dalam huruf Korea alias Hangeul ‘kan huruf G dan K itu sama. Ah, sudah, lupakan saja. Tapi, kalau dilihat dari matanya, sepertinya Kenneth memang merasa kehilangan orang tersebut. Sendu. Tidak seperti Selena yang terlalu yakin orang yang dicarinya pasti akan kembali dalam waktu sekejap mata, seperti ninja. Teman laki-lakinya mulai membuka suaranya terlebih dahulu, meminta imbalan, uang. Yah, kebanyakan orang selalu begitu. Ketika dimintai tolong pasti minta imbalannya. Tanpa sadar Selena mendecakkan lidahnya sendiri. Ups.
Menutupi kesalahannya tersebut, Selena malah mengangguk dengan hampir penuh semangat. Pekerjaan mencari-cari orang memang bukan kesukaan Selena, tentu saja. Apalagi kalau yang dicari itu Sergio dan Sander. Tapi, demi orang lain, tidak masalah, ‘kan? “Hmm... boleh, boleh. Memangnya orang seperti apa yang sedang kau cari, Kenneth?” tanyanya dengan penuh penasaran.
Yah, semoga saja orang yang dicari Kenneth bukan tipe-tipe orang seperti Sergio dan Sander. Ha.
Labels: Date: 26122009, Thread: WANTED: ERIN SHELLEY
Irrashaimase... #2
"Wow, kau tidak sendirian, ya? Sebentar, ya."
Selena mengangguk miris. Yah, tahu sendirilah kalau dirinya juga membawa Sergio dan Sander kemari—meskipun kenyataan yang sebenarnya justru mereka berdualah yang bersemangat membawanya kesini dan berbelanja keperluan sekolah milik Selena dan melakukan macam-macam hal yang sinting bersama adik kecilnya itu. Mungkin Selena belum cerita kalau Sander sempat dagu milik seseorang yang tengah berjalan-jalan di jalanan Diagon Alley tadi. Bahkan, mungkin, saking padatnya orang-orang yang berlalu lalang, korban keisengan kakaknya itu sampai tidak sadar sama sekali. Reaksi Selena sendiri malah tertawa kecil, sambil mencubit lengan kakaknya dengan keras. Jangan salah, anak baik seperti dirinya kalau sudah begitu bisa ganas. Hahaha.
Kemudian bola matanya bergulir pelan—tanda kalau dia memang sangat bosan untuk menunggu. Yang dia lakukan selama pegawainya sedang menyiapkan es krim untuknya hanya melamunkan kata-kata Mum beberapa hari yang lalu sebelum dirinya berangkat ke Inggris. Katanya hati-hati dan jaga jarak sama Muggle. Kok, Selena mengambil persepsi kalau dia harus menjauhi para Muggle itu, ya? Tapi, kan, waktu itu Selena hanya menurut saja—suatu tindakan untuk menurutnya tepat. Ah, sudahlah, lupakan saja dulu. Selena memanyunkan bibirnya. Kesal menunggu, sih, sebenarnya. Tapi, untung sajalah pegawainya langsung mendatanginya membawa pesanannya. Mm-hm, mocchi.
"Silahkan, dan totalnya 2 galleon 11 sickle."
Selena lagi-lagi merogoh saku celananya—yah, tadi karena Selena kesal karena harus membawa kantung kulit yang berisikan uang galleon itu, sekalian saja dirinya membawa sedikit uangnya didalam saku celananya. Ide bagus kan? Ahaha. Baru mendapatkan dua galleon, ia langsung meletakkan uang itu diatas konter mejanya dan langsung merogoh sakunya lagi. Oh, well, ketemu juga sisanya dan langsung diletakkan lagi diatas konter. “Emm... itu uangnya pas. Gomapseumnida—eh, terima kasih, maksudnya,” ujarnya sambil malu sendiri karena keceplosan berbicara bahasa Korea. Yeah, ini Inggris dan sepertinya belum ada toleran terhadap bahasa asing seperti Jepang dan Korea. Diambilnya nampan dan menaruhkan tiga gelas butterbeer dan tiga wadah berisikan yoghurt asli dan mocchi-mocchi yang kelihatan enak itu, kemudian membawanya menuju meja dimana Sergio dan Sander sudah duduk di kursinya.
Untung saja, sih, kedua kakaknya itu tidak lari kemana-mana. Selena jadi mencurigai kakaknya, apa jangan-jangan kedua kakaknya itu ninja? Soalnya, kan, mereka bisa menghilang dan muncul tiba-tiba...
...jangan bercanda, ah.
Engg—bisa dikatakan... Out?
Labels: Date: 26122009, Diagon Alley: Florean Fortescue
WANTED: ERIN SHELLEY #1
Sergio dan Sander baru saja kembali. Mereka tidak mau mengatakan mereka barusan darimana, sayangnya, kepada Selena. Membuat gadis ini barusan sedikit merajuk kepada kedua kakaknya tersebut. Yeah, yang paling kecil yang paling ingin tahu segalanya. Jadinya, Selena memasang tampang masam dihadapan Sergio dan Sander hingga akhirnya mereka sendiri jera. Ha, cuma semudah itu mengalahkan kakak-kakaknya yang jahil mampus dan sangat kompak. Sang gadis langsung menyeringai lebar, jadi merasa tidak peduli terhadap tempatnya berpijak sekarang ini. Padahal, baru saja saat Sergio dan Sander tidak ada dirinya menggumamkan kalau tempat ini benar-benar tempat yang tidak pantas untuknya—dengan tanpa nada agar tidak ada satu orangpun yang mendengar kata-kata tersebut dari bibir manisnya dan kemudian ditutup pula oleh tangan kirinya, seolah dirinya tengah bersin-bersin karena terlalu banyak debu bertebaran di tempat ini.
Pada kenyataanya tempat ini memang terlalu banyak debu, namun imunitas Selena sedang tinggi-tingginya hingga hidungnya tidak terkontaminasi dengan debu dan tidak bersin-bersin.
Kini kedua tangannya tengah memegang segelas butterbeer—baru saja dibelikan oleh kedua kakaknya sebagai permintaan maaf karena mengira Selena sedari tadi mengelilingi Leaky Cauldron demi mencari mereka berdua dan membuatnya sedikit kelelahan. Selena sudah menebaknya, sih. Tapi, memang, dibalik sifat mereka yang menurut Selena mendekati brutal itu ada kebaikan yang tulus dari kedua kakaknya. Membuat gadis berdarah campuran Jerman dan Korea itu melebarkan senyumannya lagi, kali ini tulus. Karena, jujur, dirinya juga capek kalau disuruh mencari kedua kakaknya yang suka kabur kemana-mana itu. Apalagi kedua belah telinganya hampir sukses tuli karena terlalu banyak suara yang diterima oleh daun telinganya. Ah, tempat ini memang padat dengan orang-orang, bahkan mungkin kalau menaiki satu lantai saja sudah ada banyak orang-orang disana. Lupakan. Sialnya, sekarang kedua kakaknya malah pergi lagi tanpa bilang-bilang dulu sama Selena. JAH.
Pokoknya jangan suruh Selena untuk mencari Sergio dan Sander. Selena capek.
Namun lagi-lagi dirinya mengelilingi sekali lagi tempat kumuh itu. Nihil. Sepertinya sih keluar dari Leaky Cauldron, atau tidak malah menembus menuju pusat perbelanjaan Diagon Alley. Selena memasang tampang kesal (lagi) pada akhirnya, sekaligus lelah. Sepertinya sekarang dirinya harus mencari tempat duduk untuk beristirahat sebentar. Ingat tidak kapan terakhir kali dirinya menemukan tempat duduk? Dua jam yang lalu, dan dua jam berdiri itu sangat-sangat-sangaaaaat melelahkan. Bahkan sama melelahkannya ketika kau bermain lempar bola dan kau hampir terus-terusan menjadi kucing yang mengejar bolanya tersebut. Manik kembarnya yang berwarna hijau lime itu kemudian menemukan tempat duduk juga, pada akhirnya. Namun disebelahnya ada seorang anak laki-laki. Tapi, tidak masalah sih bagi Selena, selama tidak terlalu mengganggu dan tidak membuatnya makin lelah lagi. Kedua kakinya kemudian mendekati laki-laki tersebut. “Emm... boleh duduk disini, ‘kan?”
Formalitas, lah—Mum yang selalu mengatakan hal itu, minta izin dulu.
Labels: Date: 25122009, Thread: WANTED: ERIN SHELLEY
Start to Mix #2
Pasrah, Selena pasrah kalau misalkan nanti dirinya yang membawa sendiri belanjaannya yang satu ini. Selena kali ini hanya bisa membayangkan adanya semacam bangkai atau beberapa bagian tumbuhan yang sebetulnya tidak terlalu menjijikan namun... Yah, begitulah. Sudah berapa kali sejak si pegawai mengatakan sesuatu yang artinya sama saja dengan tunggu sebentar, Selena beberapa kali menolehkan kepalanya kearah belakang. Sergio hanya memasang cengiran lebar, sementara Sander hanya memperhatikan Sergio. Dasar anak kembar, kompaknya parah. Memang sih, pada hakikatnya kebanyakan anak kembar itu kompaknya sudah seperti belahan jiwa. Pernah sekali Selena begitu iri kenapa dirinya sendiri malah tidak punya saudara kembar.
Biasalah anak kecil.
Selena malah cemberut lagi ketika pandangannya berpaling kearah konter tadi. Pegawai yang melayaninya itu sekilas sedang melihat juga kearah belakang—yang mana dibelakang Selena, meskipun hanya jarak paling lima langkah kaki darinya, ada Sergio dan Sander saja berdua—dengan tatapan yang Selena sendiri tidak dapat menebaknya. Apa perempuan didepanya menyukai kedua kakaknya itu, ya? Oke, Selena akui, sih... kedua kakaknya itu—ahem—tampan. Well, dirinya memang beruntung memiliki keluarga dimana didalamnya terdapat ayah yang lumayan gagah, ibu yang cantik, serta dua kakak yang cukup tampan. Bahkan, Selena sendiri sampai tidak bisa menyebut dirinya cantik. Haha...
“Mm... oke, 30 galleon,” ujarnya kepada dirinya sendiri sambil mengambil sendiri uang yang ada didalam kantung kulit miliknya—yeah, baru saja berpindah tangan lagi kepadanya, Selena merasa puas kali ini karena dia telah memegang uangnya sendiri. Kemudian tangannya mulai menyerahkan uang tersebut dan melirik lagi kearah Sergio dan Sander yang mulai melihatnya lagi, kemudian kedua tangannya langsung mengambil belanjaan terakhirnya dan langsung berlari kecil menuju kakaknya. Hijau limenya menatap manja kemudian menyerahkan belanjaan yang berisi perlengkapan ramuan dan perlengkapan membuatnya langsung kearah tangan Sergio. Dirinya malah langsung menunduk sendiri.
Dasar anak kecil memang—tapi yang penting, belanjanya (benar-benar) selesai, kan?
Out xD
Labels: Date: 24122009, Diagon Alley: Kuali dan Ramuan